Minggu, 02 November 2008

KELUAR DARI KOTAK


rutinitas yang menumpuk, prosedur baku yang kaku, pola pikir yang sempit dan instan tanpa kita sadari menjebloskan kita pada sebuah ruang semu yang membelenggu. pemahaman, sudut pandang dan ego menyebabkan kita terkukung dalam sebuah kotak yang kita buat sendiri, tanpa kita sadari. hal itu, yang membuat hidup terasa menjemukan, gelisah dan tidak bebas. karena kita telah mengikat dan membatasi dunia kita dalam sebuah kotak.
saya teringat dongeng sang kodok kolam yang sedang dikunjungi kodok laut. dengan bangga sang kodak kolam menunjukkan kolamnya yang dalam dan luas (2x3 m) sembil melompat kedalamnya.
"pernahkah kau lihat dan menyelam sedalam ini, apakah rumahmu seperti ini" teriak kodok kolam kepada temannya.
sang kodok laut hanya terdiam, bagaimana dia bisa menggambarkan luas dan dalam lautan tempat tinggalnya kepada kodok kolam, " kau datang aja kerumahku" jawab kodok laut.
nah, mumpung mentari masih bersinar cerah, dan alam masih tersenyum manis, mengapa tidak kita coba membuka dan keluar dari kota yang mengukung kita selama ini. cobalah membuka cakrawala lebih luas dan memahami sekitar dengan lebih banyak sudut pandang. banyak warna, banyak bunga dan makna yang manyatu dalam senandung harmoni memuja Tuhan

Senin, 16 Juni 2008

malam

"Demi malam, pabila menutupi (cahaya siang)..."


Allah memberikan 'kekhususan', atau sebutlah bonus, pada malam. sebab, di sepertiga atau dua pertiga malam merupakan saat terlelap seseorang beristirahat. Di saat seperti itu, seseorang berjuang melawan kantuk, dan udara dingin yang meninabobokkan. Apalagi bila membayangkan betapa asyiknya orang-orang tertidur.

Tapi, bukankah keikhlasan namanya, ketika seseorang beringsut dan menjauhkan rusuknya dari pembaringan demi beribadah kepada Allah? Keikhlasan, menjadi sesuatu yang tak ternilai, karena sudi menyisihkan kantuk. Padahal siapakah yang melarang kita tertidur ketika IA sendiri memberikan malam untuk beristirahat. Di tengah konteks demikian, betapa dalam makna ikhlas, ketika kita sudi terjaga di tengah kebeningan malam di saat khusyuk lebih mudah teraih (lihat QS 73:6).

Tak mengherankan, Allah mengganjar keikhlasan hamba-hamba-Nya yang sudi menjauhkan rusuknya, dari pembaringan. Tak sekadar turun ke lapis langit terendah dan mengabulkan doa hamba-Nya yang masih beribadah, IA pun memberikan ketenangan batin. Bukankah ketenangan batin pun merupakan tempat terpuji ketika orang-orang, di hari-hari ini, remuk dan gelisah oleh ambisi duniawi?

Minggu, 08 Juni 2008

TEMUKAN DIRIMU DALAM SEPI


Disebuah pabrik penggilingan padi, terjadi kegaduhan. Jam tangan milik seorang karyawannya terjatuh ke dalam tumpukan dedak (kulit padi). Dengan dibantu teman temannya, sang pemilik jam mencari, mengaduk dan mencarai-beraikan tumpukan dedak. Alhasil, sang jam tak ditemukan, detaknya tak terdengar ditingkahi deru mesin giling.

Saat jam istirahat, sang pemilik jam dan teman-temannya makan siang. Dilihatnya seorang anak kecil jongkok ditumpukan dedak yang telah tercerai berai. Dengan seksama ditajamkan pendengarannya, disatukan irama tubuhnya dan difokuskan penglihatannya. Sedetik disibaknya tumpukan dedak, diambilnya sebuah jam tangan tua dari dalamnya.

Dengan keheranan sang pemilik jam yang sejak tadi memperhatikannya, bertanya, bagaimana dia seorang diri bisa menemukan jam itu, sedang ia dengan teman-temannya tak bisa menemukan.

“Bapak dan teman-teman bapak mencarinya ditengah keramaian, kesibukan dan waktu yang semakin menghimpit. Sedang saya mencarinya seorang diri, cukup saya diam dalam hening, kudengar detak detak jarum jam, disitulah jam bapak terbenam” jawab sang anak ringan.

Saudaraku, keheningan adalah milik kita yang semakin lama semakin hilang dari kehidupan kita. Kesibukan yang terus menerus, rutinitas yang semakin menjemukan, tuntutan kehidupan yang semakin mencekik, dan target atasan yang semakin tak manusiawi. Sering membuat kita abai terhadap diri untuk merenung, mengheningkan diri. Merangkai kelembutan-kelembutan dalam kehidupan kita, mempertanyakan sejauh mana diri menjadi berarti dan bermakna bagi kehidupan sekitar, melihat bekal yang akan kita bawa menuju perjalan pulang kerumah-Nya.

Jumat, 23 Mei 2008

Semut Vs Sulaiman


"Berapa butir gandum yang kau makan dalam sebulan" tanya Nabi Sulaiman, penguasa separuh jagad, kepada seekor semut.
"Satu butir, wahai raja yang mengusai segala makhluk" jawab semut kepada raja yang tidak hanya manusia yang tunduk, setan dan jin pun patuh, bahkan angin dan air pun tak kuasa menolak perintah.
"Baik kau akan kuberi sebutir gandum dalam sebotol kaca, aku ingin membuktikan apakah benar omonganmu itu" perintah sang raja.
selang satu bulan, Nabi Sulaiman menjenguk sang semut di dalam botol, ternyata semut itu hanya memakan setengah butir gandum. dengan keheranan Sulaiman bertanya "Mengapa tak kau habiskan sebutir gandum itu, kok disisakan separuh".
"Ya Nabi, kalau di alam bebas, aku makan sebutir gandum bahkan lebih, itu karena aku yakin Tuhan yang menanggung rezekiku. Tapi, sekarang engkau yang menanggung rezekiku. ketahuilah, meski kau raja yang kaya raya, tapi kau tak lebih hanya manusia yang mudah berubah dan lupa. aku takut kau lupa memberiku makan, karenanya kumakan gandum itu hanya separuh" jawab semut penuh keyakinan.
"BRUKK! wadoww" aku teriak kesakitan, aku jatuh dari kasurku tidurku yang empuk. ada bentol dilenganku, ternyata seekor semut merah menggigitnya. "Ya Tuhan, aku belum sholat dhuhur, padahal udah jam dua" terima kasih Tuhan, terima kasih semut. kau tak hanya mengingatkan agar aku segera sholat, tapi, kuga mengingatkan aku agar selalu menggantungkan harapan kepada Tuhan, bukan kepada raja, nabi, atau kiai.
Allohusshomad (Allah tempat meminta) QS. Al Lhklas; 2.

Aku Letih


aku letih” guman sang hati pelan, bergema di sudut-sudut dinding dada. Hidup hanyalah sebuah rutinitas yang kehilangan makna. Kehidupan semakin tak ramah, dan menampakkan wajah yang tidak manusiawi, sangar dan kejam.

Surabaya, tempatku menjalani sekeping kehidupan, sebuah kota metropolis yang berlari mengejar mimpi dan angan semu demi sebuah tropi dan puji. Dan, aku hanya sebuah noktah dari jutaan titik dan noda dalam sebuah kanvas metropolita. Entah tanpa sadar atau ikut-ikutan, aku ikut berlari dan berlari, bekerja dan bekerja demi sebuah mimpi yang semakin jauh tak terjangkau.

mengapa aku cepat letih sekarang” kulihat bayang-bayang semakin lemah dan ringkih ditempa deru bis kota dan bemo. Memang, manusia di kota besar terbagi menjadi dua, orang kecil dan orang elit. Orang kecil diwakili oleh bus kota dan bemo serta sepeda motor, mereka seenaknya aja berkendara tanpa peduli keselamatan dan kenyamanan orang lain. Dan sebagai orang kecil, aku harus rela berdesakan bak ikan pindang didalam bis kota. Dan, orang besar diwakili mobil-mobil mewah yang berseleweran di jalan, mereka dengan seenaknya memakai jalan, karena alasan terburu waktu dan bisnis.

Rutinitas yang semakin kehilangan makna, membuat diri menjadi cepat lelah, labil dan lemah. Padahal banyak kelembutan-kelembutan diseketar kita, senyum manis istri tercinta, rajuk manja anak-anak tersayang, tangis penderitaan orang-orang terlantar yang menyembul dari rusuk-rusuk kurus mereka, atau tangis sesal kepada Tuhan diakhir malam. Semua itu kelembutan-kelembutan yang menjadikan hidup lebih berwarna dan bermakna.

Mungkin semuanya kembali kepada niat tulus dihati kita yang paling dalam (fuad). Apakah mengisi kehidupan ini diniatkan untuk mencari puji, prestasi dan tropi semata. Apakah hidup hanya untuk mengejar sejuta materi bak orang membuang air di tempayan demi mengharap air hujan. Bila itu yang kita niatkan, mungkin hidup kita menjadi roda mesin industri yang tak kenal kasih.

Dalam hidup, kita sering mengalami kegagalan dan kekalahan. Apabila tiada niat yang ikhlas, hati yang bersih dan amal yang suci, kita akan selalu mengalami kekecewaan demi kekecewaan. Kekecewaan terhadap hidup yang terus berulang dan berulang, bisa membawa kita pada muara kekecewaan terhadap Sang Pemberi Kehidupan, Tuhan. Tak terasa doa kita akan semakin kering dan palsu. Doa bukan lagi sebagai pengakuan dosa, tapi cercaan pada sang kuasa. Doa bukan lagi lagu indah tangis penuh haru, tapi tuntutan-tuntutan yang harus segera dipenuhi. Doa bukan lagi permintaan penuh harap, tapi ultimatum. Bila itu yang terjadi, akankah hilang, dimanakah indahnya rona kehidupan, syahdunya kerinduang sang pencari cinta di akhir malam dan dimanakah kemustajaban doa-doa.

Atau kita harus merevesi ulang niat hati kita untuk lebih lurus dan suci. Sekecil apapun upaya kita dalam mengisi hidup, jadikan sebagai ladang pengabdian dan amal sholeh terhadap sekitar kita, bahkan sebagai bentuk ibadah dan cinta kita kepada Tuhan. Insya Allah hidup akan menjadi lebih bermakna dan bergairah, hidup mengharu biru dalam kebahagian penuh canda dan cinta kasih, bak nyanyian burung bulbul di taman bunga mawar.

Rabu, 21 Mei 2008

Cahaya Tuhan

Aneh… Ada orang yang mengaku telah melihat Tuhan, bahkan, celakanya telah menyatu dengan Tuhan. Menurut saya, pasti orang itu bukan manusia sejati, atau jangan-jangan bukan Tuhan sejati yang dia temui. Mungkin itu jin, iblis, khayalannya sendiri, atau pemikirannya sendiri yang selama ini dipertuhankan sehingga menjelma menjadi tuhannya.

Para Ahli Suluk sering mengibaratkan dirinya adalah ngengat yang mendekati lilin. Ngengat akan selalu mendekati lilin, karena, ngengat tak akan bisa hidup tanpa cahaya sang lilin. Namun, setiap ia mendekati lilin, maka, sang ngengat akan hangus terbakar dalam kebinasaan. Ngengat sejati akan selalu mendekati lilin, dan lilin sejati akan menghanguskan sang ngengat.

Jadi, bila ada ngengat yang tidak suka cahaya lilin, mungkin itu bukan ngengat sejati. Begitu pula, bila ada lilin yang tidak menghanguskan sang ngengat, bisa jadi, itu bukan lilin sejati.

Pabila, ada manusia yang tidak suka mendekati cahaya Tuhan, mungkin dia bukan manusia sejati. Dan, bila ada Tuhan yang bisa menyatu dengan manusia, bisa jadi itu bukan Tuhan sejati.

By the way. Mustahil Tuhan menyatu dengan manusia atau manusia yang mengaku dirinya Tuhan, “ana al haq”.

Tuhan tidak pernah menyruh manusia untuk menemukan diri-Nya, melainkan Tuhan menyuruh kita selalu berusaha mendekati-Nya. Ingatlah, ketika Tuhan menampakkan dirinya di depan Musa as, maka, gunung dan lembah pun menari dalam ekstase keindahan, bahkan Musa terjungkal pinsan dan gunung membalik tubuhnya melindungi Musa dari api Tuhan yang menghanguskan.

Karenanya, yuk kita berlomba-lomba mendekati Tuhan entah dengan cara merangkak, berjalan, berlari maupun melompat. Tuhan bisa didekati dengan berbagai cara dan amalan, entah itu sholat, sedekah ataupun tangis kerinduan di akhir malam yang renta. Buang impianmu untuk menemukan tuhan secara ragawi maupun indrawi, karena Dia maha suci dari semua itu.

Wahai pengembara…walau engkau terbang tinggi mengangkasa atau tengelam kedasar jurang… kemarilah…kemarilah…karena Aku jalan-Nya.

Selasa, 20 Mei 2008

Bidadari Berselendang Bianglala

Siapakah engkau, Ufik Khorida, bidadari yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita hadir dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda, bahkan, saling tak mengenal. Tapi, kenapa disaat jumpa, kita seketika saling mempercayai untuk membangun kebersamaan, dalam perjalanan?

Sungguh, begitu mulia, mahligai pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai. Tak mengherankan, bila Allah menempatkan jodoh (penikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh hamba-Nya. Bayangkan, jika jodoh seperti juga kematian (roh), menjadi ilmu terbuka bagi hamba-Nya. Siapakah yang sudi memilih X yang masa kecilnya binal sebagai jodoh (sama dengan seseorang yang telah mengetahui tanggal dan hari kematiannya, niscaya berhura-hura untuk kemudian bertaubat saat menjelang waktu kematiannya).

Berbeda dengan malaikat, Allah memberikan hawa-nafsu (dalam tarekat inilah yang dilatih untuk menjadi an-nafs al-muthma'innah) terhadap manusia, sekaligus perangkat untuk mengendalikannya. Nafsu biologis, misalkan, disalurkan melalui pernikahan bagi yang mampu, meniru Adam dan Hawa. Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam... (QS. 2:223). Begitu pentingnya pernikahan, Allah menurunkan pedoman bagi hambanya, seperti pada surah Al Baqarah.

Siapakah yang mengirimmu ke dalam kehidupanku, Ufik Khorida? Allah, betapa maha pengasih Dia, yang memberikanmu sebagaimana ketentuannya (sunnahtullah) agar mahluk hidup berpasang-pasangan. Tapi, kenapa di tengah rasa superioritas kaum pria, seringkali abai memahami bila istri merupakan 'pemberian'Nya? Betapa aku maupun kaumku, para lelaki yang merasa super, seringkali menghanguskanmu ke dalam api kemarahan.

Adakah superioritas kaum pria -- terutama di masa jahiliyah -- menyebabkan Allah memberikan perhatian khusus terhadap kaummu dengan menurunkan surat An-Nissa (wanita). Tak sekadar tuntunan menikah untuk berkembangbiak, di surat itu Dia memberikan pedoman tata cara memperlakukan kaummu, sebagai istri. Ini agar kaummu terhindar dari egoisme dan superioritas pria.

Di saat engkau berbaring di sisi tulang rusuk kiriku, betapa aku ingin merumuskan hakikatmu. Tapi, mengapa sulit merumuskanmu: engkau, mahluk yang kuat ketika lemah, begitu manja ketika tegar. Engkau, bahkan, lebih kuat menanggung penderitaan ketika sendirian. Sungguh berbeda dengan pria yang dicitrakan superior (adakah kekuatan pria justru menjadi kelemahan ketika ia ditinggalkan sendirian sehingga cenderung mencari kembali pasangan hidupnya demi menyokong superioritasnya?)

Kodrat kaummu serba kontradiktif. Itukah penyebabnya Nabi SAW berfatwa, ''sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok. Bila kamu membiarkannya (bengkok) kamu memperoleh manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya maka kamu mematahkannya.'' (HR. Aththahawi). Namun, bagiku, istri merupakan cobaan bagi suami. Tak mengherankan, jika Allah menentukan posisi suami sebagai pemimpin bagi perempuan. Begitu juga memberikan pedoman terhadap muslim untuk mendapatkan istri yang tidak berasal dari kaum musyrik.

Janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman... (QS 2:221)

Mengapa demikian? Karena engkau, istri bersama kaummu, mendapatkan kemuliaan-Nya. Sekadar menyebut contoh, Allah bersifat rahman dan rahim. Perempuanlah yang memiliki (sifat) rahim. Di rahim, perlambang kasih, Allah menumbuhkan janin. Dengan kasih dari pemilik rahim, anak-anak tumbuh, menjadi muslim dan muslimah. Dengan anugerah kemuliaan semacam itu, kenapa masih ada perempuan alpa pada kesucian makna rahim, justru ketika memiliki rahim? Sesungguhnya dunia seluruhnya materi (perhiasan) dan sebaik-baiknya materi ialah wanita (istri) yang sholeh (HR. Muslim)

Betul, engkau istriku, bukan pemimpin utama. Tapi, sesungguhnya engkau menentukan, ketika hanya menjadi posisi pendamping. Engkau, di saat menjadi istri yang suci, semestinya menjadi pengawas suami saat keliru melangkah. Siapa yang dapat mengukur air matamu yang berderai di saat engkau berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar pada suami? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan justru menjadi kekuatan untuk mengembalikan suami (keluarga) ke jalan yang benar.

Tapi, siapakah engkau, Ufik Khorida, bidadari yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Istri-istri yang suci justru merupakan jalan bercahaya menuju-Nya. Kesucianmu (banyak buku mengupas kriteria istri saleha sebagai pedoman) menjadi suar di tengah keluarga (tempatmu berada) untuk membentuk keluarga sakinah. Cahayamu menerangi perjalanan menuju pada-Nya. Kesabaran dan keikhlasanmu mengelola rumah tangga membuat para suami (keluarga) merasa khidmat untuk beribadah. Sebaliknya, istri-istri 'musyrik', bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu, istriku, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagi keluarga.

Wahai Ufik, di saat engkau menjadi jalan bercahaya, mengapa mesti menggantinya? Bukankah sejatinya, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya yang memuliakanmu, Ufik Khorida, istriku yang suci!