Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

Otak-atik OTAK



Allah selalu menantang manusia untuk mengamati, menganalisa dan belajar terhadapa alam sekitar. Tuhan menyebutnya sebagai ayat ayat Allah, pertanda akan keberadaan-Nya.
disanping Dia bersifat transenden, yang tak terlampui, Dia juga bersifat imanen, Dzat yang dapat ditemukan (bersembunyi di balik ciptaan-Nya.
maka Allah menantang dan merangsang manusia untuk selalu mengoptimalkan otaknya untuk berfikir dan merenung secara kreatif.
"afala ta'qilun, apakah kau tak menggunakan akalmu..?"
"afala tatafakkarun, apakah kau tidak berfikir.."
maka adalah sebuah kdhaliman yg sangat apabila kita tidak mengoptimalkan otak kita, membiarkannya membeku, jumud dan mati.... padahal otak semakin digunakan akan semakin bagus, cemerlang dan kreatif...
selamat berpikir...

Kamis, 20 Mei 2010

TEMPAYAN RETAK


Seorang penjual air memiliki dua tempayan yang dipikulnya di bahunya. Dia menjual kerumah-rumah di kampung. Tetapi dari dua tempayan yang ia miliki, salah satunya retak. Sehingga sang penjual air tidak bisa menjual air dua tempayan penuh, melainkan satu separuh.
Mengetahu kondisinya yang retak, sang tempayan merasa kecewa pada dirinya, ia pun berkata pada si penjual “ maafkan aku, aku tidak bisa memberimu air satu tempayan penuh, karena kondisiku yang retak. Aku mengecewakanmu”
“Ooo tidak, tidak apa-apa, bukankah dengan adanya dirimu aku bisa membawa dua tempayan air” jawab sipenjual air.
“tapi aku hanya bisa memberimu separuh, berarti uang yang kau terima lebih sedikit, ahhh...andai aku tempayan yang bagus, tidak retak “ keluh si tempayan retak.
“baiklah, besok kalau kita mengambil air ke sumur, perhatikanlah jalan yang kau lalui” jawab penjual air.
Keesokannya, seperti biasa sipenjual air menuruni jalan setapak ke sebuah sumur sambil memikul sepasang tempayan yang retak salah satunya. Selama di jalan, sang tempayan retak memperhatikan jalan yang dilalui. Dia menemui, sisi jalan yang sebelah kiri, gersang dan tandus. Sedang sisi jalan yang sebelah kanan, hijau, penuh dengan bunga aneka warna dan semerbak harum.
Saat rehat disiang hari, si penjual air bertanya kepada tempayan retak “apa yang kau dapati dari jalan yang kita lalui tadi”
“ ya, sisi jalan yang gersang, sedangkan sisi yang lain penuh bunga warna warni” jawab tempayan retak.
“Ya, selama ini, air yang tumpah dari retakanmu telah menyirami sisi jalan sehingga menjadi subur. Aku sengaja menanami dengan berbagai aneka bunga. Saat bunga itu mekar, kupetik dan kujadikan hadiah kepada setiap pelanggan kita, sehingga bisa menghiasi dan menambah keharuman rumahnya. Itulah sebabnya pelanggan kita amat senang dan semakin banyak” urai si penjual air.
Tempayan retak terdiam merenungi uraian si penjual air. Dia sadar, walaupun dia retak, cacat dan tidak bagus, tetapi ia bisa memberi manfaat kepada kehidupan.
Saudaraku, kita semua adalah tempayan retak. Tidak ada yang sempurna. Pastilah ada cacat, kekurangan dan kelemahan dalam diri kita. Tapi, dalam kelemahan disitu ada kekuatan kita. Dari kelemahan yang kita miliki, asal ikhlas dan mau berbuat, kita bisa menebar kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Bukankah adanya si kaya karena ada simiskin, bukankah kelancaran mobil dan kereta api di jalan ahmad yani, karena jasa penjaga palang pintu kereta juga. Ada hikmah dan kebaikan di setiap lipatan kehidupan ini.
Bahkan, seorang tokoh mafia kejahatan mengatakan, “teman dekat burung pemakan bangkai adalah bangkai seekor kuda” artinya sejelek apapun seseorang, pasti bisa memberi manfaat bagi yang lain.
Saya teringat cerita saat Yesus (Isa) berjalan bersama sahabat-sahabatnya. Dijalan mereka menjumpai bangkai anjing yang membusuk “alangkah busuk dan mejijikkan bangkai anjing itu” kata mereka, tapi Yesus menimpali “lihatlah, alangkah putih giginya”
Bahkan Rasulullah yang mengharamkan bangkai, masih memperbolehkan memanfaatkan kulit untuk disamak dan tulangnya untuk keperluan yang lain. Ada kebikan dan hikmah dalam setiap ciptaan Tuhan. Apapun bentuk, rupa dan manfaatnya. Sebab kehadiran mereka menunjukkan kebesaran Tuhan. Subhanallah, maha suci Tuhan yang maha sempurna, tiada yang sempurna kecuali dia, karena kita adalah tempayan yang retak.

Minggu, 09 Mei 2010

SANG JAGUAR MERAH


Nguuuunnggg... wwuuuusssss.....wuuusssss.....
Derung mobil jaguar merah yang masih baru melaju kencang di sebuah jalan kecil. Si pengendara, seorang penusaha muda yang sukses, seakan tak peduli dengan kondisi sekitar yang banyak mobil parkir, orang lalu lalang dan anak kecil. Sang pengusaha muda ingin menunjukkan kesuksesannya kepada setiap mata yang kagum melihat bagus dan kencang si jaguar merah.
Bukk..... ciiiiittttt...!
Tiba-tiba sang jaguar berhenti mendadak, sang pengendara, pemuda parlente, turun dengan tangan terkepal, dahi berkerut dan sorot mata yang memerah. Dilihatnya ada goresan kecil dipintu mobil akibat timpukan sebuah batu. Dengan marah yang menggumpal di dada, sang pengusaha sukses menhampiri seorang anak kecil berumur 7 tahun. Dipegang dengan kencang tangan sianak, tamparan pun siap melayang.
“maaf pak, maafkan saya” hiba si anak.
“mengapa kau lempar batu jaguarku, lihat akibatnya” sergah pengusaha.
“ maaf... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu akan begini jadinya. Saya melempar batu karena tidak ada yang mau berhenti. Saya butuh pertolongan menganggkat kakak saya” jelas si anak.
Dilihatnya seorang anak berumur 10 tahunan tegeletak di pinggir jalan, di dekatnya teronggok sebuah kursi roda usang. Si anak itu meringis kesakitan. Dada si pengusaha muda terkesiap. Nanar matanya memandang apa yang terjadi didepannya.
“kakak saya lumpuh, tadi dia terjatuh dari kursi rodanya, sedangkan saya tak kuat mengangkatnya. Saya sudah minta tolong beberapa pengendara yang lewat, tapi mereka tak mau berhenti. Makanya saya melempar batu dengan harapan ada yang mau berhenti dan menolong kakak saya”
Dengan diam sang pengusaha menolong menaikkan anak lumpuh itu. Mereka pun segera berlalau menyusuri jalanan berbatu berdebu. Sang pengusaha hanya diam, bimbang dan serba salah. Sekilas dilihatnya goresan di pintu merah jaguar. “ahh, biarlah jadi kenangan, tak akan kuhapus goresan itu”
Semenjak itu, kemanapun jagur merah pergi, goresan di pintu masih terlihat jelas. Setiap memandang goresan itu, sang pengusaha sukses selalu tercenung. Goresan di pintu itu telah menggores hatinya.
Saudaraku. Kadang kesuksesan yang kita raih, karier yang melangit dan harta berlimpah membuat kita berlari kencang, ngebut tanpa peduli sekeliling kita. Kita jadi abai dengan mereka yang terlantar, kemiskinan yang menganga dan tangis yang menyembul di sela rusuk yang kurus.
Terkadang dalam agama pun kita berlari kencang, shalat sepenuh malam, haji dan umroh setiap tahun bahkan itikaf setiap akhir ramadhan. Kita ngebut bak di jalan tol untuk mengejar sorga. Keasyikan itu membuat kita abai terhadap sekeliling kita. Tetangga yang miskin, saudara yang kekurangan bahkan terhadap mereka yang butuh pertolongan kita seakan tak peduli. Kita terlalu sibuk dan asyik dengan dunia kita, dengan aktifitas kita dan ambisi pribadi kita. Bukankah sejelek-jelek orang adalah mereka yang tidur kekenyangan sedang tetangganya kelaparan.
Sampai suatu saat, sebuah batu menimpuk kita untuk mengingatkan kita agar berhenti dan menengok sejenak kesekeliling kita. Tuhan menegur kita dengan berbagai bahasa dan cara. Agar kita lebih peduli kepada sesama, menolong mereka yang kesusahan dan berempati terhadap mereka yang terlantar.
Bukankah setiap shalat selalu diawali dengan takbir, membesar Dia, dan diakhiri dengan salam sambil menengok kekanan dan kekiri. Tuhan seakan memerintahkan kita agar peduli kepada sesama di kanan kiri kita, tidak hanya melulu dalam dunianya. Tuhan telah melihat bahwa kau udah ibadah dan memenuhi kewajiban padaNya, tapi mbok ya dilihat juga tetangga kanan-kiri, sudara, sanak family, bahkan sesama manusia yang butuh pertolongan. Bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Apakah bukan sebuah kekejian dan kemungkaran pabila kita seenaknya ngebut tanpa menghiraukan mereka di sekitar kita. “Khorun naas, amfa’ahum linnas” sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.
Yuk, kita rehat sejenak, meminggirkan kendaraan dan melihat jejak kebelakang. Apakah kita sang pengendara jaguar merah itu, atau emang sudah tidak ada kepedulian dihati kita, hati yang kering dan mati, hati yang keras sekeras batu hitam, hati yang tak pernah tersirami hujan hidayah dan air mata cinta. Atau, mungkin kita sudah tak memiliki hati, kalau itu yang terjadi, berarti kita harus berdoa minta hati padaNya.